• link terbaru forum gocrot : KLIK DI SINI
  • gunakan email yang benar.. Register wajib verifikasi email.. cek inbox atau spam jika sudah register.. proses persetujuan maksimal 1 X 24 jam.. terima kasih

[DRAMA] A Sin, Deus And Me "MENJADI PELACUR KARENA AYAHKU"[True Story Of My Life]

Ada yg tau makna Sin,Deus And Me?

  • Tau

    Votes: 0 0.0%
  • Tidak

    Votes: 2 100.0%
  • Ragu ragu

    Votes: 0 0.0%

  • Total voters
    2

Anggelaw.Real

Bayi GoCrot
Terimakasih buat momod dan jajaran yang membuat wadah cerbung seperti ini
:kyaa::kyaa::kyaa:

Tidak BOLEH DI COPY/DI JUAL DI WEBSITE ATAU APAPUN. SAMPE KETAHUAN? DOA GUE MENEMBUS LANGIT.

Karakter berdasarkan karakter asli.
Penulisan nama berdasarkan samaran.
Lokasi dan waktu berdasarkan adegan asli.
Maaf kalo berantakan by hp. Laptop lagi ngambek.


Tenang aja gue ga galau kok. Ga sedih juga. Gue butuh ice cream 😛. Kisah ini gue tuangkan disini sebagai bentuk dedikasi kepada para laki dan perempuan dalam memilih pasangan. Kok gitu? Setelah membaca pasti tau apa maksudnya hehe.


Sinopsis
................

Sejak lahir, Anggelaw tidak pernah mengetahui wajah ibunya. Dia berlari ke ayahnya namun tidak mendapatkan apa pun. Merasakan kasih sayang yang seharusnya datang dari kedua orangtuanya, Ratu dan Raja.
Aku butuh Ibu. Aku butuh ayah. Anggelaw sering kali merasakan perasaan yang sulit diungkapkan, perasaan yang menganggap dirinya sebagai beban yang tidak pernah diminta untuk dilahirkan. Dalam sepinya malam ia berteriak dalam hati, bertanya mengapa ia ada di dunia yang penuh dengan kehampaan ini. Tanpa kasih ibu yang memberi kehangatan, tanpa ayah yang memberi perhatian. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kebanggaan di matanya.

Seolah ia hanyalah kesalahan yang harus ditanggung seumur hidup. Anggelaw merasa seperti seorang bayangan yang hilang. Setiap malam, ia berbicara kepada dirinya sendiri. Kata-kata favorit yang bergema dalam hatinya, namun tak ada yang memberi jawab. Ia hanya berjalan dalam dunia yang asing dan gelap, terjebak dalam perasaan kosong yang terus menghantuinya.

Namun, saat Anggelaw beranjak dewasa, ia mulai mencari jawaban di luar . Mencoba menemukan cinta dan kasih sayang yang selama ini ia impikan. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan berbagai orang meskipun hatinya tetap terasa hampa. Di tengah pencariannya, Anggelaw mulai menyadari bahwa cinta sejati tidak selalu datang dari orang yang di harapkan.

Namun di tengah perjalanan itu, muncul seorang pria yang mungkin mencintainya dengan tulus atau justru bagian dari takdir pahit yang menunggunya.

Mampukah Anggelaw menemukan jawaban atas siapa dirinya atau akankah ia tetap menjadi bayang-bayang di balik diamnya tembok?


Prolog
Chapter 1: Diamnya Tembok


Anggelaw tidak sepenuhnya sendirian. Ia dibesarkan oleh Wanda, wali orang tua yang penuh perhatian namun penuh alasan. Begitu protektif, sering berlebihan. Setiap kesalahan kecil diperbesar, setiap keinginan ditahan dengan dalih melindunginya. Drama dan permainan perasaan menjadi bagian dari kesehariannya, membuatnya semakin sulit memahami siapa dirinya dan mengapa berada disini.

Anggelaw merasa terasing dan tak berarti di dunia keluarga nya. Meskipun Wanda merawatnya,ia tetap merasakan kehampaan yang mendalam. Kesehariannya di isi dengan belajar dan berusaha agar dapat meraih mimpi yang ia impikan meski tantangan menghampirinya.
(Pagi hari di rumah kecil sederhana. Wanda duduk di kursi kayu dekat meja makan, menyeruput kopi hitam panas. Anggelaw berjongkok di depan pintu, mengikat tali sepatunya. Cahaya matahari masuk lewat jendela, membawa kehangatan yang terasa kontras dengan suasana di dalam rumah.)

Wanda (mendengus, meletakkan cangkir kopi di meja): Huh, tiap pagi lihat kamu sibuk sendiri. Untung aku masih ada buat ngurusin kamu. Sudah bagus kamu saya rawat dari bayi. Kalau bukan saya, entah kamu sekarang jadi apa.

Anggelaw (menghela napas pelan, tetap fokus pada sepatunya): …

Wanda (menyeruput kopi lagi, lalu mengangkat alis): Lihat tuh, udah jam berapa sekarang ?Sekolah di swasta, naik angkot tiap hari, semua itu pakai duit saya. Tinggal berangkat aja lama banget.

Anggelaw (berdiri, merapikan rok sekolahnya, lalu menatap Wanda dengan ekspresi datar): Siapa juga yang minta dilahirkan, Siapa yang minta diurus?

Wanda (tertegun sesaat, lalu mendecak kesal): Hebat banget ngomongnya! Jadi kamu nyalahin saya sekarang?

Anggelaw (menyandarkan tas ke bahu, berbicara pelan tapi tegas) "Bukan nyalahin. Cuma bilang yang sebenarnya. Aku nggak pernah minta semua ini. Kalau bisa pilih mending tinggal di jalanan. Aku pergi dulu".

(Keheningan menggantung di antara mereka. Wanda menatap Anggelaw dengan tatapan sulit ditebak—antara kesal dan mungkin sedikit tersentuh. Tapi dia tidak berkata apa-apa lagi. Anggelaw menarik napas, lalu melangkah keluar. Wanda hanya bisa memandangi punggungnya, lalu kembali menyeruput kopi yang mulai mendingin.)

Dari bayi aku rawat. Aku kasih makan, aku urus sekolahmu! Tapi apa? Tinggal sekolah aja bangun kesiangan terus!"
(Anggelaw berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot yang lewat. Wanda masih terus mengoceh dari depan rumah, seakan belum puas dengan omelannya tadi.)

Wanda: "Lihat tuh berapa lama lagi masuk angkot. Naik angkot aja pilih pilih!"

(Anggelaw tetap diam. Matanya fokus ke jalan, menanti angkot. Ia tidak peduli lagi dengan suara Wanda yang terus-menerus mengungkit jasa mengasuhnya.)

Wanda: "Kamu tuh harusnya bersyukur punya aku! Kalau bukan aku, kamu entah di mana sekarang! Eh, malah diem aja! Dengar nggak sih aku ngomong?"

(Anggelaw menarik napas panjang, mencoba menahan rasa kesal. Ia tahu kalau menjawab hanya akan memperpanjang ocehan Wanda. Sebuah angkot akhirnya datang, ia segera melambaikan tangan dan naik tanpa berkata apa-apa lagi.)

Supir Angkot: "Yuk naik langsung jalan. Mau ke mana neng?"

Anggelaw: (Pelan) "Sekolah Harapan Bangsa Nusa Bang"

(Ia duduk di pojok angkot, menatap jendela. Wanda masih berdiri di depan rumah, menatap kepergiannya dengan wajah penuh drama. Anggelaw tidak menoleh. Ia merasa lebih tenang di dalam angkot yang penuh orang asing daripada di rumah yang penuh beban.)

(Adegan: Pagi hari, gerbang sekolah swasta. Deretan mobil mewah berhenti satu per satu, menurunkan murid-murid dengan seragam rapi. Dari kejauhan, sebuah angkot berhenti. Anggelaw turun, mengenakan seragam yang sedikit kebesaran dan menaikkan kacamata yang terjatuh di tengah hidung mancungnya dengan jari telunjuknya.

---
Murid 1: (berbisik pada temannya sambil tertawa kecil) “Lihat deh, si Anggelaw lagi.”

Murid 2: (memutar mata, berbisik) “Kenapa dia masih sekolah di sini sih? Gak cocok banget.”

Murid 3: (mencibir) “Tasnya gede banget. Kayak mau pindahan.”

(Anggelaw menarik napas dalam, berusaha mengabaikan bisikan-bisikan di sekitarnya. Ia melangkah masuk ke gerbang, tapi tatapan mata murid-murid lain membuatnya semakin gugup. Beberapa murid yang sedang berbicara langsung terdiam dan hanya memandanginya dengan ekspresi mencemooh.)

Satpam Sekolah: (melihat Anggelaw, menegur dengan nada lembut tapi tegas) “Anggelaw, pin kerahmu mana?”

Anggelaw: (menunduk, menghindari kontak mata) “Lupa, Pak...”

Satpam Sekolah: (menghela napas) “Besok jangan lupa, ya. Aturan tetap aturan.”

(Anggelaw mengangguk pelan dan segera melangkah masuk ke dalam koridor. Suara tawa samar terdengar di belakangnya. Ia berusaha fokus ke lantai, berharap bisa segera sampai ke kelas tanpa insiden.)

Murid 4: (sengaja membenturkan bahunya ke Anggelaw saat lewat, berbisik sinis) “Dasar culun.”

(Anggelaw menggigit bibir, menahan emosi. Sekolah ini tidak pernah berubah—dan mungkin tidak akan pernah. Dengan cepat, ia mempercepat langkahnya menuju kelas, berusaha menghindari lebih banyak tatapan dan bisikan)

Koridor sekolah swasta yang megah dan bersih. Dinding berwarna putih gading dihiasi berbagai piala dan foto siswa berprestasi. Murid-murid dengan seragam rapi berjalan sambil berbincang, beberapa tertawa kecil. Di antara mereka, Anggelaw berjalan sendirian, berusaha tak memperhatikan tatapan yang mengarah padanya.)
---
Murid 5: (berbisik sambil melirik ke arah Anggelaw) “Itu dia… Katanya dia nggak punya orang tua, lho.”

Murid 6: (menaikkan alis, berbicara pelan tapi cukup keras untuk didengar) “Serius? Pantas aja beda banget dari kita…”

Murid 7: (tertawa sinis) “Duh, kok bisa sih sekolah di sini? Nggak nyambung banget.”

(Anggelaw mendengar semuanya, tapi ia tetap berjalan lurus. Tangan mengepal di dalam saku rok seragamnya. Napasnya berat, tapi ia berusaha tetap tenang.)

Murid 8: (berbisik dengan nada dibuat-buat prihatin) “Kasihan ya. Pasti nggak ada yang jemput atau antar dia pakai mobil mewah.”

Murid 9: (tertawa kecil, menimpali) “Ya iyalah. Lagian, lihat tuh, tasnya kayak penuh sama barang bekas. Duh, nggak banget!”

(Anggelaw berhenti sejenak di depan pintu kelasnya. Ia bisa merasakan tatapan mereka menusuk punggungnya. Ingin rasanya ia berbalik dan membalas, tapi untuk apa? Mereka tak akan mengerti.)

Murid 10: (menyeringai, sengaja berkata lebih keras) “Orang seperti dia sih nggak bakal tahan lama di sekolah ini. Tinggal tunggu waktu aja.”

(Anggelaw menarik napas panjang, menguatkan diri. Tanpa menanggapi, ia membuka pintu kelas dan melangkah masuk. Suara bisikan masih terdengar samar di belakangnya, tapi ia memilih mengabaikannya. Ia sudah terbiasa menjadi bayangan di antara mereka.

Guru Piket: (menghentikan Anggelaw di depan pintu kelas, mengamati seragamnya yang tidak lengkap) “Anggelaw, mana pin kerahmu?”

Anggelaw: (menunduk, menghindari tatapan tajam sang guru) “Lupa, Bu…”

Guru Piket: (menghela napas, mengambil buku laporan tata tertib, lalu menuliskan nama Anggelaw di dalamnya) “Kamu sudah tahu peraturan sekolah, kan? Ini sudah kesekian kalinya.”

Anggelaw: (hanya mengangguk, tidak membela diri)

Guru Piket: (menutup buku laporan dengan bunyi ‘klik’ yang tajam, lalu berkata dengan nada dingin) “Saya catat. Jangan sampai diulangi lagi.”

(Anggelaw mengangguk lagi, lalu melangkah masuk ke dalam kelas. Ia berharap setidaknya ada satu pasang mata yang menyapanya, tapi harapannya sia-sia.)

---
(Di dalam kelas, suasana begitu ramai. Anak-anak 9A sibuk berbicara tentang liburan mereka, memamerkan pengalaman mewah mereka. Suara tawa memenuhi udara, seolah dunia mereka begitu sempurna.)

Chery : (tertawa keras) “Kamu harus lihat vila keluarga aku di Bali. Private pool-nya itu, loh. Benar-benar surga!”

Jesika : (menghela napas dramatis) “Duh, aku tuh pengen banget ke Eropa pas summer nanti. Tapi ayahku bilang harus nunggu liburan sekolah. Gemes banget!”

Caca: (mengeluarkan ponselnya, menunjukkan jam tangan baru yang berkilau mahal) “Guys, lihat dong! Ini limited edition, cuma ada beberapa di dunia.”

(Semua orang tertawa dan mengagumi barang-barang mahal mereka. Tak ada satu pun yang memperhatikan Anggelaw yang berjalan diam-diam menuju bangkunya di pojok kelas.)

(Ia duduk, membuka bukunya, lalu menatap ke luar jendela. Dunia mereka terasa begitu jauh. Seakan ada dinding tak kasat mata yang memisahkannya dari mereka. Tapi, apakah itu benar-benar dinding atau memang ia yang tak pernah punya tempat di sini?

Anggelaw menarik nafas dalam dalam lalu memberanikan diri untuk mencoba berbicara.)

Anggelaw: (suara pelan) Hai, tadi PR matematika susah nggak?

(Siswa yang diajak bicara hanya melirik sekilas lalu kembali berbicara dengan teman-temannya, mengabaikan Anggelaw sepenuhnya. Ia terdiam, merasa tidak dianggap.)

(Chery, Jessika, dan Caca yang duduk di barisan depan memperhatikan Anggelaw dan tersenyum sinis.)

Chery: (berbisik ke Caca) Dia masih aja berusaha ngomong?

Jessika: (tertawa kecil) Kayaknya dia nggak sadar,kalau ga ada yang tertarik temenan sama dia.

(Anggelaw menunduk, merasa malu. Ia kembali terdiam, menggenggam pena di tangannya sambil menunggu guru masuk.)
..........
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Seorang guru melangkah masuk dengan tenang. Seketika, suasana kelas mulai hening. Cherry, ketua kelas yang dikenal sebagai siswa populer dan berprestasi, segera berdiri dari tempat duduknya. Dengan suara lantang dan penuh wibawa, ia memberikan salam kepada guru.

Cherry: “Selamat pagi, Bu Yati !”

Serempak, seluruh siswa mengikuti, mengulang salam dengan kompak.

Siswa-siswa: “Selamat pagi, Bu Yati!”

Bu Yati tersenyum dan mengangguk, menghargai disiplin yang ditunjukkan oleh Cherry dan teman sekelasnya.

Guru: “Pagi anak-anak. Silakan duduk.”

Cherry kembali duduk dengan anggun, sementara teman-temannya mulai membuka buku dan bersiap untuk pelajaran. Sebagai ketua kelas, Cherry selalu terlihat percaya diri dan dihormati, meskipun di balik sikapnya yang sempurna, ada sisi lain yang mungkin tidak diketahui oleh semua orang.

(Bu Yati berdiri di depan kelas, menatap semua siswa dengan serius.)

Bu Yati: Saya perhatikan ada siswa yang kurang aktif di kegiatan kelas. Bu Yati terdiam beberapa detik...
Anggelaw, kamu harus lebih sering ikut serta dalam kegiatan. Ini penting supaya kamu bisa lebih berprestasi.

(Semua mata langsung tertuju pada Anggelaw. Ia menundukkan kepala, merasa malu.)

Anggelaw: (pelan) Baik, Bu...

(Chery dan teman-temannya saling lirik dan tersenyum mengejek.)

Chery: (berbisik ke Jessika) Emang dia bisa sih ikut kegiatan?

Jessika: (tertawa kecil) Pasti bakal canggung banget.

(Anggelaw merasa semakin minder, tapi dalam hati ia ingin mencoba.)

Caca: Dia mau ikut beneran?? Gimana kalau dia cuma bikin malu aja?

Chery: Mungkin dia bakal berhenti sebelum mulai.

(Tiba-tiba Bu Yati mendekati Anggelaw.)

Bu Yati : Anggelaw, ayo ikut kegiatan kelas ekstrakurikuler. Kamu harus lebih percaya diri.

(Anggelaw mengangguk pelan meskipun merasa canggung. Semua siswa siswi lain masih meliriknya dengan aneh.

(Bu Yati masih berdiri di depan kelas, memegang daftar ekstrakurikuler, sementara para siswa masih duduk di kursinya untuk memilih kegiatan ekstrakurikuler dan meminta konsultasi)

Bu Yati: "Baik, anak-anak. Minggu ini kalian harus memilih ekstrakurikuler yang akan diikuti. Setiap siswa wajib ikut minimal satu kegiatan."

(Anggelaw yang duduk di barisan belakang, bersandar di kursi dengan malas, mendesah pelan. Ia menunduk, memperhatikan kaos kakinya yang kendor, sepatunya yang penuh goresan, dan baju tanpa pin di kerah.)

Bu Yati: "Anggelaw, kamu sudah memutuskan akan ikut ekskul apa?"

Anggelaw: (terkejut, gugup sebentar, lalu menggaruk kepala) "Umm... Saya nggak tahu, Bu..."

Bu Yati: (tersenyum sabar) "Kamu bisa coba klub seni, olahraga, atau mungkin jurnalistik? Bisa jadi kesempatan bagus buat bersosialisasi."

(Mendengar kata "bersosialisasi", Anggelaw menelan ludah. Dia bukan orang yang mudah akrab dengan teman-temannya, apalagi sejak sering jadi bahan perhatian gara-gara atribut sekolah yang kurang lengkap.)

Anggelaw: (pelan, hampir berbisik) "Hmm saya harus..."

(Beberapa siswa di kelas tertawa kecil, berbisik-bisik. Salah satu dari mereka, Daniel mengeluarkan komentar sinis.)

Daniel : "Boro-boro ikut ekskul, Bu. Pin di kerah aja nggak pernah inget dipasang!"

(Sontak satu kelas tertawa. Anggelaw menunduk, wajahnya semakin panas. Rasanya makin nggak pantas ada di sekolah ini. Sepatunya yang rusak, kaos kaki yang turun, semua jadi makin terasa mengganggu.)

Bu Yati: (melihat ke arah Daniel, menegur dengan tegas) "Daniel, cukup. Setiap orang punya tantangannya sendiri." (Kembali menatap Anggelaw dengan lembut.) "Anggelaw, bagaimana kalau kita coba satu ekskul dulu? Mungkin kamu bisa ikut klub menulis. Kamu suka menulis, kan?"

(Anggelaw ragu-ragu, tapi melihat tatapan tulus Bu Yati, ia mengangguk pelan. Dalam hati, ia tahu bahwa ia harus mencoba. Tapi bisakah ia benar-benar merasa cocok di sekolah ini.

Jesika: "Serius, Bu? Klub menulis? Dia nggak punya gaya buat jadi penulis sukses."

Caca: "Iya, Bu. Sekolah ini kan buat yang berprestasi dan punya koneksi. Kayaknya dia nggak cukup cocok buat itu."

Bu Yati: (Menatap mereka tegas) "Semua siswa di sini punya hak yang sama untuk berkembang. Prestasi tidak hanya diukur dari kecantikan atau koneksi."

(Chery dan teman-temannya saling pandang, lalu berbisik-bisik. Anggelaw menunduk, lalu mengangguk pelan.)

(Bu Yati tersenyum dan menepuk bahu Anggelaw dengan lembut.)

(Sementara itu, Chery, Jesika, dan Caca berbicara dan tertawa di barisan depan.)

Chery: (Berbisik ke Jesika) "Lihat deh, si Anggelaw itu. Kenapa sih dia selalu sendirian? Kayak nggak punya teman gitu."

Jesika: "Ya iyalah, siapa juga yang mau temenan sama dia? Misterius banget sih."

Caca: "Iya, dan kayaknya dia nggak cocok deh di sekolah ini. Liat dong kita, cantik dan berprestasi, jelas beda kelas."

(Anggelaw mendengar percakapan mereka, tapi ia hanya diam dan tetap fokus pada buku catatannya.)

(Perut Anggelaw keroncongan, tapi ia mencoba mengabaikannya. Ia menunduk, fokus pada buku pelajarannya, berusaha memahami materi tanpa suara. Ia tahu, kalau ia kehilangan fokus, tidak ada yang akan membantunya mengejar ketertinggalan.)

(Di sekelilingnya, kelas ramai seperti biasa. Bukan membahas pelajaran, tapi hal-hal yang terasa jauh dari hidupnya.)

Siswa 1 (tertawa, bersemangat): "Kemarin les gue seru banget, diajarin langsung sama tutor dari luar negeri! Kalian harus coba deh."

Siswa 2 (mengangguk, bangga): "Iya, les di tempat gue juga keren. Sehari bisa dapet tiga mata pelajaran, jadi makin jago!"

Siswa 3 (tertawa kecil, melirik Anggelaw): "Tapi ada juga yang nggak pernah les, ya. Gimana bisa ngerti pelajaran tanpa les?"

(Beberapa siswa tertawa. Anggelaw tetap diam. Ia sudah terbiasa.)

Siswa 4 (menyeringai, sengaja berkata keras): "Makanya, kalau mau pinter tuh les! Bukan cuma duduk diem aja di kelas."

Siswa 5 (menimpali dengan nada meremehkan): "Iya, tapi les kan mahal. Ya nggak semua orang bisa, kan?"

(Anggelaw menggenggam pensilnya erat. Ia tahu kata-kata itu ditujukan padanya. Ia tahu mereka menganggapnya bodoh hanya karena ia tidak bisa les seperti mereka.)

(Tapi apa yang bisa ia katakan? Bahwa uangnya hanya cukup untuk makan dan ongkos pulang? Bahwa ia ingin les, tapi bahkan meminta tambahan uang untuk makan saja terasa berat?)

(Ia memilih diam. Tidak membalas. Tidak membela diri. Karena percuma. Karena di dunia mereka, ia tidak pernah termasuk.)

(Bel istirahat berbunyi. Satu per satu, teman-teman sekelas Anggelaw beranjak dari kursi mereka dengan antusias. Mereka sibuk membahas mau makan di kantin mana, beberapa bahkan menyebut restoran di luar sekolah. Sementara itu, Anggelaw tetap duduk, menatap meja sambil berpikir.)

Anggelaw (membatin, merogoh dompetnya dan menghitung sisa uangnya): "Uang yang dikasih Wanda 35ribu. Kepake 5rb buat berangkat dan harus sisain 5ribu lagi buat pulang. Berarti, gue cuma bisa makan sesuatu yang murah."

(Ia melihat teman-temannya pergi ke kantin yang lebih besar dan lebih mewah. Mereka memesan nasi dengan lauk beragam, jus segar, dan camilan tambahan. Tanpa berpikir panjang, Anggelaw memilih pergi ke kantin paling ujung—yang lebih sederhana, lebih sepi.)

(Begitu sampai, ia melihat menu yang tertempel di dinding. Pandangannya tertuju pada satu pilihan: mie rebus pakai telur dan kornet. Harganya 18 ribu.)

Anggelaw (membatin, mengangguk kecil): "Oke, ini masih masuk budget."

(Saat ia hendak memesan, suara tawa terdengar dari meja lain. Sekelompok siswa yang duduk tak jauh darinya melirik dengan ekspresi sinis.)

Siswa 1 (berbisik ke temannya, tapi cukup keras untuk didengar Anggelaw): "Seriusan makan di sini? Pantesan aja…"

Siswa 2 (tertawa kecil): "Duh, kasian banget. Kantin lain mahal, ya?"

(Anggelaw mendengar semuanya, tapi ia berpura-pura tidak peduli. Ia tetap memesan makanannya, membayar dengan hati-hati, lalu membawa mangkuk mie ke meja kosong di sudut.)

(Saat mulai makan, ia merasakan tatapan mereka masih menusuk. Tapi, ia menunduk, mengaduk mie-nya perlahan, berusaha menikmati makanan yang ada.)

Anggelaw (membatin, mencoba menghibur diri sendiri): "Mie ini tetap enak, kok. Dan yang penting gue bisa makan."

(Uap panas mengepul dari mangkuk di depan Anggelaw. Ia meniup pelan mie rebusnya sebelum mengambil suapan pertama. Hangat. Gurih. Setidaknya, ini cukup untuk mengganjal perutnya sampai nanti sore.)

(Namun, bahkan sebelum mie itu benar-benar turun ke tenggorokannya, ia mulai merasakan tatapan menusuk dari berbagai sudut kantin.)

Siswa 1 (berbisik, tapi cukup keras untuk didengar): "Masa makan Indomie di sekolah segini mahal? Kesian banget, ya?"

Siswa 2 (tertawa pelan, berbisik ke temannya): "Makanya, belajar yang bener biar nggak jadi orang bodoh kayak dia."

(Anggelaw merasakan panas di pipinya. Bukan dari uap mie, tapi dari rasa malu yang mulai menjalar. Ia tahu mereka memandangnya rendah. Seolah-olah, memilih makan mie rebus adalah bukti kebodohan dan kemiskinan.)

(Tapi ia tidak bisa membalas. Tidak bisa membela diri. Apa yang harus ia katakan? Bahwa uangnya memang terbatas? Bahwa ia memang tidak sepintar mereka? Itu hanya akan membuatnya terlihat lebih lemah.)

(Ia menunduk, fokus pada mie di hadapannya. Telinganya menangkap tawa-tawa kecil di sekitar, tapi ia mencoba mengabaikannya.)

(Bel masuk berbunyi. Satu per satu siswa kembali ke kelas, masih sibuk mengobrol. Anggelaw duduk di bangkunya, menghela napas. Ia berharap waktu berjalan lebih cepat agar ia bisa segera pulang.)

(Di sekelilingnya, teman-temannya masih asyik membicarakan banyak hal—hal yang jauh dari kehidupannya.)

Siswa 1 (dengan antusias): "Gue sih sekarang pake BBM ONYX 2. Lo masih pake yang seri lama, ya?"

Siswa 2 (tertawa kecil): "Gue lagi minta bokap yg seri lipat. Masa handphone jadul terus?"

Siswa 3 (mengangkat dagu, bangga): "Nanti pulang gue dijemput pakai Alphard. Terus langsung ke mall, nyari baju buat liburan ke Bali."

Siswa 4 (tertawa, menimpali): "Gue sih ke Singapur! Lo ke mana, Cherry?"

Cherry (menyeringai, santai): "Gue? Ke Jepang lah, jelas!"

(Anggelaw diam. Ia menunduk, mengusap layar handphone-nya yang sudah mulai usang. Tidak ada yang bertanya padanya. Tidak ada yang peduli ke mana ia akan pulang—karena jawabannya sederhana: naik angkot, sendirian, langsung ke rumah.)

(Siang sampai sore, kelas Biologi dimulai dengan suasana yang biasa saja. Bu Yati, guru Biologi, berdiri di depan kelas dengan ekspresi tegasnya, mengumumkan pembagian kelompok untuk tugas hari ini.)

Bu Yati (menatap daftar di tangannya): "Baik, untuk diskusi kali ini, saya sudah membagi tim. Anggelaw, kamu masuk kelompok Cherry, Jesika, dan Caca."

(Anggelaw menahan napas sejenak. Ia sudah bisa menebak bagaimana ini akan berjalan. Tapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Bu Yati melanjutkan.)

Bu Yati (menatap Cherry dengan serius): "Cherry, saya minta kamu bantu Anggelaw, ya. Pastikan dia bisa mengikuti materi dengan baik."

Cherry (tersenyum tipis, nada suaranya datar): "Iya, Bu."

(Tapi Anggelaw tahu, itu hanya jawaban formal. Ia tidak terlalu berharap.)

(Cherry dan Jesika sibuk menyiapkan presentasi kelompok tanpa meminta pendapatnya. Ketika Anggelaw mencoba menyela, mereka hanya mengabaikannya. Saat akhirnya tugas mereka selesai dan siap untuk dikumpulkan, Cherry menatap Anggelaw.)

Cherry (datar, tanpa ekspresi): "Udah, nanti lo duduk aja pas presentasi. Biar kita yang jelasin."

(Anggelaw menatap mereka, ingin protes, tapi akhirnya mengangguk pelan. Percuma. Tidak ada gunanya.)

(Ketika kelas selesai, ia menghela napas panjang. Ia memang ada di kelompok ini, tapi rasanya seperti bayangan. Tidak dilihat, tidak didengar.)

(Presentasi selesai. Cherry, Jesika, dan Caca berjalan kembali ke bangku mereka dengan senyum puas. Anggelaw tetap duduk di kursinya, diam. Seperti yang ia duga, namanya tidak disebut sekali pun selama presentasi. Ia tidak dianggap. Tidak ada yang peduli dengan kontribusinya.)

(Ia melirik jam di dinding. Baru jam 1 siang. Masih tiga jam lagi sebelum pulang. Tapi ia sudah ingin keluar dari sini. Ingin menghilang.)

(Bu Yati melintas di dekat mejanya dan berbisik singkat.)

Bu Yati (lembut, tapi tajam): "Saya lihat kamu sudah berusaha, Anggelaw. Jangan menyerah."

(Anggelaw tersenyum kecil. Setidaknya, ada satu orang yang menyadari usahanya, meskipun itu tidak cukup untuk mengubah keadaan.)
---
Jam 4 Sore – Waktunya Pulang

(Begitu bel pulang berbunyi, kelas langsung riuh. Semua sibuk merapikan barang mereka, mengeluarkan ponsel, dan menelepon orang tua masing-masing.)

Siswa 1 (tersenyum, berbicara di telepon): "Mama, jemput aku sekarang ya. Iya, yang pake BMW."

Siswa 2 (tertawa kecil, menoleh ke temannya): "Gue pulang naik Alphard hari ini, soalnya Fortuner gue lagi dipake Papa."

Siswa 3 (mengayun-ayunkan kunci mobil di jarinya, bangga): "Gue sih enak, bawa mobil sendiri."

(Anggelaw menunduk, memasukkan bukunya ke dalam tas. Tidak ada yang perlu ia telepon. Tidak ada mobil yang menunggunya di gerbang. Seperti biasa, ia akan berjalan keluar sendirian dan naik angkot.)

(Saat ia melangkah keluar dari kelas, ia mulai merasakan tatapan itu. Sinis. Merendahkan.)

Siswa 4 (berbisik, tapi sengaja agar terdengar): "Tuh, si Anggelaw. Pulang naik angkot lagi."

Siswa 5 (tertawa kecil, menimpali): "Kapan-kapan gue kasih receh deh, kasian banget hidupnya."

(Tawa meledak di belakangnya. Anggelaw menggigit bibirnya, berusaha tetap berjalan tanpa menoleh.)

(Di koridor, bisikan masih mengikuti langkahnya.)

Siswa 6 (dengan suara dibuat-buat prihatin): "Dia pasti capek ya, harus desek-desekan di angkot."

Siswa 7 (tertawa mengejek): "Iya, mending jalan kaki sekalian!"

(Anggelaw menarik napas dalam-dalam. Kakinya terus melangkah, keluar dari gerbang sekolah. Di sana, barisan mobil mewah berjajar, menunggu para siswa.)

(Ia melihat teman-temannya masuk ke dalam mobil ber-AC, duduk nyaman tanpa harus mengkhawatirkan ongkos. Sementara itu, ia berjalan ke halte kecil di depan sekolah, menunggu angkot dengan uang yang harus dihitung hati-hati agar cukup sampai rumah.)

(Saat angkot berhenti, ia naik tanpa menoleh lagi ke belakang. Biarlah. Mereka boleh menertawakannya. Mereka boleh memandangnya rendah. Yang penting, ia bisa pulang.)

(Anggelaw duduk di dalam angkot, kepalanya bersandar ke jendela yang dingin. Jalanan macet, tapi bukan itu yang membuat dadanya terasa berat. Ia malas pulang. Rumah bukan tempat yang nyaman. Rumah hanyalah tempat ia harus kembali, bukan tempat ia ingin berada.)

(Tapi tetap saja, ia harus pulang.)

---
Di Rumah Wanda
(Begitu turun dari angkot, ia berjalan menuju toko sembako yang juga bagian dari rumah Wanda. Dari kejauhan, ia melihat Wanda duduk di kursi plastik di depan toko, wajahnya terlihat lelah.)

Wanda (melirik sekilas, suaranya ketus): "Lama amat pulangnya."

Anggelaw (menunduk, pelan): "Habis sekolah langsung pulang, kok."

(Wanda berdiri, meregangkan tubuhnya yang pegal. Ia tampak sangat capek, dan itu artinya…)

Wanda (menghela napas, lalu menunjuk ke dalam toko): "Gue mau tidur. Lo jaga toko."

(Tanpa menunggu jawaban, Wanda sudah berjalan masuk ke dalam rumah. Tak ada tanya bagaimana hari Anggelaw, tak ada kepedulian. Hanya perintah.)

(Anggelaw menghela napas, masuk ke kamar kecilnya untuk berganti baju. Setelah itu, ia kembali ke depan, duduk di bangku toko, memperhatikan rak-rak yang dipenuhi beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya.)

(Matanya melirik ke dalam tas sekolahnya. Ada PR yang harus dikerjakan. Tapi bagaimana? Ia harus jaga toko, memastikan barang tidak hilang, dan melayani pembeli.)

(Ia membuka bukunya, mencoba membaca soal matematika yang harus ia kerjakan. Tapi baru saja ia mulai berpikir, seorang ibu datang ke toko.)

Ibu Pembeli (dengan cepat): "Dek, beli gula dua kilo sama minyak satu liter."

Anggelaw (mengangguk cepat, bangkit dari kursinya): "Iya, Bu, sebentar."

(Ia mengambil barang yang diminta, memberikan kepada si ibu, dan menerima uangnya. Setelah ibu itu pergi, Anggelaw kembali menatap PR-nya. Baru satu soal, dan sudah terdistraksi. Ini pasti akan lama.)

(Dari dalam rumah, suara dengkuran pelan terdengar. Wanda sudah tidur. Sementara Anggelaw? Ia masih harus bertahan, berjaga di toko, dan mencari celah untuk menyelesaikan tugasnya.)

(Sekali lagi, ia merasa sendirian. Tapi seperti biasa, ia tidak punya pilihan selain bertahan.)

Chapter 2 : Rindu yang tak terucap
 
Last edited:
Chapter 2 : Rindu yang Tak Terucap

Wandah: "Anggelaw,titip warung ya. Aku ke arisan dulu, nanti sore balik.

Anggelaw: "Iya"

Wandah: "Kalau ada yang beli, hitung baik-baik. Uangnya jangan sampai kurang."

Anggelaw: "Santai aja "

(Wandah tersenyum, mengambil tas, lalu pergi. Anggelaw kembali fokus mengerjakan tugasnya.

(Matahari sudah hampir tenggelam, langit mulai berwarna jingga. Anggelaw meregangkan tangannya yang pegal setelah seharian menjaga warung. Ia melihat jam di dinding—sudah hampir Maghrib.)

Anggelaw: (menghela napas, berbicara pada diri sendiri) "Wah, nggak terasa udah sore banget. Capek juga, ya."

(Ia bangkit dari kursi kayu, melirik sekeliling warung yang mulai sepi. Anggelaw berjalan ke depan warung, menggulung tirai besi setengahnya, tanda bahwa warung akan segera tutup.)

Anggelaw: (tertawa kecil sambil meregangkan tubuh) "Sekarang waktunya bersih-bersih diri."

(Masuk ke dalam rumah sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang sedikit berdebu. Wajahnya terlihat lelah, tapi ada rasa puas di matanya.)

(berjalan menuju kamar mandi)
"Yah, begitulah hidup. Harus multitasking!"

Anggelaw duduk di meja belajar yang sudah penuh dengan tumpukan buku, tugas sekolah, dan sebungkus permen. Tangannya sibuk mencatat, tetapi pikirannya terus melayang. Di luar, angin malam berdesir pelan, namun suara-suara itu tidak bisa menenangkan pikirannya yang bergejolak.

"Aku lagi, dan selalu begini," Anggelaw bergumam pelan pada tembok di depannya. Tembok itu, seperti biasa, tidak menjawab. Tapi, itulah yang selalu ia lakukan setiap malam, berbicara pada tembok seolah tembok itu bisa mendengarnya. Mungkin karena tembok tak pernah menghakimi.

Ia menggigit permen yang ada di tangannya, rasa manisnya hanya sesaat membuatnya lupa sejenak pada masalahnya. Perlahan, ia menatap cermin di kamarnya. Giginya berlubang, efek kebiasaan buruknya makan permen hingga larut malam. Namun, saat itu, ia tak peduli. Tak ada yang memperhatikan, atau setidaknya itu yang ia rasakan.

"Tembok, kenapa sih aku selalu merasa sendirian?" Anggelaw bertanya lagi, matanya kosong menatap refleksi dirinya. Suara di luar kamar terdengar seperti bisikan yang jauh, tapi Anggelaw tahu itu suara Wanda, yang telah pulang. Wanda memang baik, tapi Anggelaw tetap merasa terasing.

"Seharusnya ada yang bisa aku banggakan selain pekerjaan rumah dan tugas ini. Tapi aku nggak bisa apa-apa." Anggelaw berkata lagi, berbicara pada dirinya sendiri.

Di luar sana, Wanda sedang menonton acara favoritnya, tak tahu betapa kesepian anak asuhnya yang satu ini. Anggelaw tahu Wanda terlalu sibuk untuk mengetahui apa yang sebenarnya ia rasakan.

---
Anggelaw selalu punya waktu untuk menulis. Ia duduk di sudut kamar dengan pena dan buku catatan tua, menuliskan apa pun yang terlintas di pikirannya. Dunia dalam tulisannya selalu lebih indah daripada kenyataan yang ia hadapi setiap hari.

"Jika saja ada seseorang yang mengerti," gumamnya, menulis dengan cepat.

Ia mulai menulis cerita tentang seorang gadis yang berjuang untuk meraih impian di tengah banyaknya rintangan, cerita yang sebenarnya adalah cermin dari dirinya sendiri. Ia tidak berharap banyak, hanya saja menulis membuatnya merasa lebih kuat. Menulis memberinya kekuatan untuk terus bertahan.

Di setiap kata yang ia tulis, Anggelaw menemukan sepotong kebahagiaan yang ia rindukan, dan itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan, setidaknya untuk hari ini. Karena menulis telah mengingatkannya bahwa meskipun dunia terasa berat, ada dunia lain yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri, dan itu adalah dunia yang penuh harapan.

Malam itu, Anggelaw duduk di tepi tempat tidur, mata yang lelah memandang kosong ke arah langit-langit kamar yang gelap. Di luar, suara angin berdesir lembut, namun hatinya begitu kosong. Entah sudah berapa kali ia mengungkapkan rasa rindunya dalam hati, namun tidak ada jawaban.

Anggelaw menggenggam erat bantal di pelukannya, merasakan dinginnya yang mengingatkannya pada sepinya malam. Ia tahu bahwa meskipun Wanda sudah mengasuhnya dengan penuh kasih sayang, ada satu tempat di hatinya yang tidak pernah bisa diisi oleh siapapun. Tempat itu kosong, karena tak ada yang bisa menggantikan kehadiran seorang ibu.

“Ma...,” Anggelaw berbisik pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Ma, bisa nggak aku lihat wajahmu? Bisa nggak kita bertemu sebentar saja?”

Matanya mulai terasa panas, dan beberapa tetes air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Sejak lahir, ia tidak pernah melihat wajah mamanya. Ia hanya mendengar cerita orang-orang tentang mama yang cantik, yang selalu tersenyum hangat. Tapi semua itu hanya cerita. Anggelaw hanya mengenal mama melalui suara, melalui cerita orang-orang. Wajah mama hanya ada dalam bayangannya, tapi ia tak pernah benar-benar tahu seperti apa rupa wanita yang memberi kehidupan padanya.

“Jika saja aku tidak lahir…” pikir Anggelaw, hatinya terasa perih. “Kalau aku tidak lahir, mungkin mama masih ada di sini. Mungkin semua akan berbeda.”

Anggelaw memejamkan mata, berusaha mengatur napas. Ia ingin berbicara pada mama, meskipun hanya dalam mimpi. Mungkin dengan begitu, ia bisa merasa sedikit lebih dekat.

“Tuhan, bolehkah aku bertemu mama sebentar saja di mimpi? Aku rindu dia. Aku hanya ingin melihat wajahnya, hanya sekali saja,” doa Anggelaw dalam hati, suaranya begitu lirih, hampir tidak terdengar.

---
Anggelaw tertidur dengan doa yang masih terngiang di telinganya. Dalam keheningan malam, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada kehangatan, ada cahaya lembut yang menyelimuti tubuhnya. Ia membuka mata perlahan dan mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang begitu indah. Taman yang penuh bunga berwarna-warni, langit biru cerah, dan udara segar yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Di sana, di tengah taman yang damai itu, seorang wanita berdiri dengan senyum yang begitu akrab di hati Anggelaw. Anggelaw tertegun, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ma...?” Anggelaw mengucapkan kata itu dengan gemetar, suaranya hampir tak terdengar karena terkejut.

Wanita itu menoleh, dan Anggelaw langsung mengenalinya. Itu adalah mama. Meskipun wajahnya tak sepenuhnya jelas, senyum itu... senyum yang ia dengar dari cerita orang-orang... senyum itu sama persis dengan yang ia bayangkan selama ini.

Mama berjalan mendekat, pelan namun pasti. "Anakku," suara mama terdengar lembut, mengisi angkasa dengan kehangatan yang tidak pernah bisa ia rasakan sebelumnya.

Anggelaw merasa hatinya berdebar kencang, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ia tahan. "Mama... kenapa baru sekarang aku bisa bertemu denganmu? Aku... aku rindu..."

Mama meraih tangan Anggelaw dengan penuh kasih sayang, dan untuk pertama kalinya, Anggelaw merasakan sentuhan yang begitu hangat. “Aku juga rindu, sayang. Aku selalu ada di hatimu, bahkan jika kamu tidak melihatku. Aku tidak pernah meninggalkanmu.”

Anggelaw menangis, tapi kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena perasaan yang begitu dalam. "Aku... merasa bersalah, Ma. Jika saja aku tidak lahir, mungkin kamu masih ada di sini. Aku tidak ingin menyusahkan. Maafkan aku..."

Mama mengelus rambut Anggelaw dengan lembut. "Jangan pernah berpikir seperti itu, Anggelaw. Kehadiranmu adalah berkah, sayang. Aku bahagia bisa memberimu kehidupan. Kamu adalah bagian dari diriku, dan aku bangga padamu."

Anggelaw mengangkat wajahnya, mencari kekuatan di dalam kata-kata mama. "Aku ingin terus berjuang, Ma. Aku ingin menjadi seseorang yang membuatmu bangga."

Mama tersenyum lebih lebar, senyum yang penuh cinta dan harapan. “Kamu sudah membuatku bangga, Anggelaw. Teruslah berjalan, meskipun dunia terasa berat. Aku akan selalu ada di hatimu, mendukungmu, meskipun kamu tidak bisa melihatku. Kamu tidak pernah sendirian.”

Anggelaw merasakan pelukan mama yang penuh kasih, hangat dan nyaman. Meskipun hanya dalam mimpi, ia merasa bahwa mama ada di sana, memberi kekuatan yang tak terhingga.

"Terima kasih, Ma. Aku akan berusaha. Aku janji."

Mama hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian perlahan menghilang, menyatu dengan cahaya yang lembut. Sebelum sepenuhnya menghilang, ia mengucapkan satu kalimat terakhir yang menggema dalam hati Anggelaw.

"Aku selalu mencintaimu, Anggelaw."

---
Pagi itu, Anggelaw terbangun dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Mimpi itu terasa begitu nyata, seolah mama benar-benar ada di sisinya. Meskipun mama sudah tiada, pertemuan dalam mimpi itu memberinya kekuatan yang tak terhingga.

"Terima kasih, Ma," bisik Anggelaw, menatap ke langit dengan hati yang penuh harapan. "Aku akan terus berjuang. Aku akan membuatmu bangga."

Hari itu, Anggelaw melangkah keluar dengan lebih percaya diri. Mimpi itu tidak hanya memberi kenyamanan, tapi juga membangkitkan semangat baru untuk terus hidup dan berjuang, meskipun tanpa sosok mama di dunia nyata. Karena di dalam hatinya, mama selalu ada.

---Pagi Hari itu Anggelaw dan Wandah di Halaman Rumah

Anggelaw berjalan dengan langkah yang penuh semangat, langkahnya terasa lebih ringan dan lebih cepat dari biasanya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan. Wandah, yang duduk di bangku kesayangan sambil menyeruput kopi merasa heran melihat perubahan sikap Anggelaw.

Wandah: (Memandang Anggelaw dengan tatapan bingung) "Kenapa pagi-pagi semangat banget sih? Biasanya kamu cuma berjalan seperti zombie ke sekolah."

Anggelaw: Tersenyum cerah "Ah, enggak tahu deh. Rasanya hari ini berbeda aja, kayaknya banyak hal bagus yang bakal terjadi."

Wandah: Tertawa kecil "Anak aneh cuma dia doang di dunia ini."

Anggelaw: Tersenyum kecil dan menunduk, sedikit malu dalam hati "Aku merasa punya semangat baru hari ini, itu aja."

Wandah menatap Anggelaw dengan curiga, tapi memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Wandah kehilangan bayang Anggelaw, ia tersenyum manis dalam perjalanan ke sekolah di dalam angkot penuh keramaian.

---
Pagi yang Berbeda

Anggelaw bersiap seperti biasa, mengenakan seragam sekolah yang sudah kusut dan sepatu yang sudah mulai usang. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah terburu-buru. Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, ia harus bertahan di sekolah, menghadapi ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelas.

Jesika, Caca, dan Chery sudah menunggunya dengan tatapan mengejek. Anggelaw tidak terlalu peduli. Mungkin kalau ia menjawab, mereka akan semakin mengejeknya. Jadi ia memilih untuk diam, seperti yang selalu ia lakukan.

"Hei, si miskin! Gimana tugas rumahnya? Bisa selesai nggak, ya?" Caca menyindir sambil tertawa keras.

Chery menambahkan, "Pasti sih, si Anggelaw ini cuma bisa nulis cerita fiksi, kan? Bukan bisa matematika."

Anggelaw hanya menunduk, berusaha keras menahan air mata yang mulai menggenang. Ia tak ingin terlihat lemah di depan mereka. Ia tahu jika ia menunjukkan bahwa mereka sudah berhasil menyakiti hatinya, mereka akan semakin mengejeknya.

Setiap kata mereka menancap dalam seperti duri di hati. Anggelaw tahu ia bukan orang kaya, dan ia juga tahu ia tidak pandai akademis. Tapi satu hal yang ia punya adalah cintanya pada menulis. Menulis adalah pelarian satu-satunya yang membuatnya merasa hidup.

"Sudah, Caca. Kasihan, deh. Mungkin dia nggak seberuntung kita." Jesika mencoba melerai, tapi nada suaranya tetap tajam.

Anggelaw menarik napas panjang, meyakinkan dirinya bahwa mungkin hari ini adalah hari yang lebih baik. Tapi, seperti biasa, kenyataan itu selalu datang lebih cepat dari yang ia harapkan.

---
Sesaat kemudian, Jesika, Caca, dan Chery datang dan menghampirinya dengan senyum sinis.

Jesika: (Mengangkat alis)
"Anggelaw, siap-siap ya, mau jadi bahan olok-olok kita lagi. Kalian semua lihat nih, si culun ikut olahraga Haha."

Caca: (Menyeringai)
"Jangan-jangan dia mau ikut jadi pemain bola voli juga? Jangan harap bisa deh."

Chery: Tertawa "Ya, sih. Paling cuman numpang ikut doang. Enggak bakal bisa apa-apa."

Anggelaw hanya diam, menundukkan wajahnya dan berusaha tetap tenang. Biasanya dia akan mengabaikan. Tapi entah kenapa kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia merasa semangatnya tidak bisa dihancurkan begitu saja.

Anggelaw: Dengan suara pelan namun tegas "Mungkin aku memang ga bisa olahraga tapi aku bisa menulis. Dan itu sesuatu yang enggak semua orang bisa lakuin."

Jesika: (Mengejek)"Menulis? Hahaha, coba dong tulis cerita tentang betapa culunnya kamu di sini. Pasti seru."

Caca: "Ih, kayaknya ngimpi deh, dia bisa jadi penulis."

Namun Anggelaw tetap tidak membalas dengan kata-kata pedas. Dia hanya melangkah ke sisi lapangan untuk menyaksikan permainan tanpa berkata-kata lebih banyak.

---
Sebuah Majalah Gratis

Setelah kegiatan olahraga selesai , di tengah kerumunan siswa, Anggelaw melihat sebuah stand yang dibuka oleh pihak sekolah, menawarkan majalah gratis yang berjudul Provoke. Matanya langsung tertarik. Sebuah peluang yang tidak datang setiap hari. Ia mendekat dan menerima satu majalah.

Anggelaw: (Membaca judul artikel di sampul)
"Menjadi Penulis di Usia Muda. Wah... Ini keren banget."

Anggelaw merasa seperti mendapat angin segar. Ia menyimpan majalah itu di dalam tas, menyadari bahwa meskipun dirinya tidak memiliki prestasi akademis atau kemampuan olahraga, menulis adalah sesuatu yang bisa ia kuasai dan hargai. Suatu hal yang memberi makna bagi dirinya.

---
Di Ruang Kelas

Selama pelajaran, Anggelaw duduk di bangkunya dengan wajah yang lebih tenang dan bersemangat. Dia memegang majalah itu dengan erat, bertekad untuk mengikuti apa yang telah ia baca dan menulis lebih banyak lagi.

Di sudut ruang kelas, Jesika, Caca, dan Chery masih sibuk berbicara diantara mereka dengan suara cukup keras.

Jesika: "Duh, si Anggelaw tadi tuh kayak orang bego, diem aja di lapangan. Enggak ngerti deh, kenapa dia masih bertahan jadi culun."

Chery: "Iya, ya. Tapi lihat aja deh, nanti dia bakal tetap gitu aja kok. Kita juga enggak bisa berharap dia bisa berubah."

Anggelaw mendengar kata-kata mereka, namun kali ini ia hanya menatap majalah yang ada di tangannya, dengan senyuman tipis. Dalam hatinya, ia tahu bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada menemukan tujuan hidupnya, meskipun dunia mungkin tidak selalu mendukungnya.

---
Sejenak, Anggelaw menatap keluar jendela. Meskipun tidak ada yang tahu, dalam mimpi semalam, ia bertemu dengan sosok yang sangat ia rindukan—mamanya. Mimpi itu memberinya pesan yang sederhana namun kuat: "Jadilah dirimu sendiri, Anggelaw. Kamu punya bakatmu sendiri."

Dan pagi ini dengan semangat baru yang mengalir dalam dirinya, Anggelaw siap untuk membuktikan bahwa ia bisa lebih dari yang mereka. Pikiran-pikirannya berlarian entah ke mana, tapi satu hal yang jelas, ia terbuai oleh bayangan sosok yang tak bisa lepas dari benaknya. Bayangan itu tak lain adalah mama, sosok wanita yang selalu menenangkannya. Berbagai kenangan indah bersama mama terus terputar dalam pikirannya.

Tiba-tiba, suara bel sekolah yang nyaring memecah lamunannya, menandakan bahwa jam istirahat telah tiba. Anggelaw terkejut, seakan baru tersadar dari mimpi. Ia segera berdiri dan meraih tas di samping mejanya. Ada rasa canggung yang menyelimuti dirinya, pertama kalinya ia keluar dari kelas dengan cepat.

Langkahnya sedikit ragu-ragu. Ia menyentuh kantong celananya, namun entah kenapa, ia tak ingat berapa banyak uang yang dibawanya untuk jajan. "Ah, nanti saja," gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya.

Saat melangkah keluar kelas, suasana sekolah SMA 1 yang ramai dengan suara tawa dan obrolan kakak kelas yang dewasa membuat Anggelaw merasa sedikit canggung. Di depan kantin, sekelompok siswi cantik, tinggi, dan modis berkumpul bersama teman-temannya. Anggelaw tak bisa menahan pandangannya untuk tidak tertuju pada sosok yang paling mencolok di antara mereka. Seorang siswi dengan rambut panjang terurai, tubuh yang proporsional, kulit putih bersih, dan wajah yang seperti dihiasi cahaya. Ia adalah sosok yang menjadi idola hampir setiap siswa di angkatan itu.

"Dia... dia cantik banget," pikir Anggelaw, matanya terpaku tak bisa lepas.

Namun, saat ia hendak melangkah lebih dekat ke kantin, langkahnya terhenti. Anggelaw merasa seperti ada beban yang menahan. Ia hanya bisa diam, menatap dengan rasa kagum, namun sedikit malu.

"Sial," pikirnya lagi, merasa seperti tidak pernah cukup baik untuk bisa bergaul dengan mereka. "Apakah aku akan selalu merasa seperti ini?"

(Suasana kantin ramai, suara obrolan dan sendok yang beradu dengan piring terdengar di sekitar. Anggelaw duduk di meja paling pojok, menikmati menu paket hematnya—nasi, sosis, telur, dan sayuran. Ia mengunyah pelan, menikmati tiap suapan meski sederhana.)

Anggelaw (dalam hati): Cukup lah, yang penting kenyang. Uang saku masih aman buat besok...

Jesika, Chery, dan Caca duduk di meja dekat jendela, menikmati jus mahal sambil membahas gebetan mereka.)

Jesika (menghela napas dramatis): "Ugh, aku udah chat sama Ray, tapi dia balesnya lama banget. Nyebelin!"

Chery (tertawa kecil): "Sama, Dika juga gitu. Cowok emang hobi PHP-in cewek kali, ya?"

Caca (memutar mata): "Kalau aku sih, belum ada yang menarik. Semua cowok di sekolah ini biasa aja!"

(Mereka bertiga tertawa, lalu tiba-tiba Chery melirik ke arah Anggelaw yang duduk sendirian di pojok kantin, sibuk dengan makanan murah.)

Chery (menyenggol Jesika, berbisik): "Hei, lihat tuh si Anggelaw. Dia kayaknya nggak pernah ngobrol soal cowok, deh."

Jesika (tertawa sinis): "Ya iyalah! Mana ada cowok yang mau sama dia?"

Caca (mendadak mendapat ide, matanya berbinar nakal): "Eh, gimana kalau kita nge-prank dia? Kita buat akun palsu, pura-pura jadi cowok dan deketin dia lewat chat!"

Jesika (tertawa keras, bertepuk tangan kecil): "Gila, itu bakal seru banget! Kita lihat seberapa gampang si culun itu percaya sama cowok misterius!"

Chery (mengangguk setuju): "Setuju! Aku yang bikin akun. Nama cowoknya apa ya?"

Caca (berpikir sebentar, lalu tersenyum licik): "Reza. Nama yang keren dan bisa bikin dia baper!"

(Mereka bertiga langsung sibuk dengan ponsel masing-masing. Chery membuat akun palsu dengan foto cowok tampan yang diambil dari internet. Dalam beberapa menit, akun "Reza" pun jadi.)

Jesika (membaca bio akun palsu dengan suara keras): "‘Reza, suka baca buku, humoris, dan mencari seseorang yang bisa diajak ngobrol seru.’ Wah, pas banget buat si Anggelaw!"

Caca (tertawa kecil): "Ayo, mulai deketin dia. Kirim chat pertama sekarang!"

Jesika: "Oke, kita sepakat mau nge-prank Anggelaw. Tapi masalahnya satu…"

Caca: "Kita nggak punya nomor dia??!"

Chery: "Anggelaw juga nggak punya FS. Gimana dong?"

(Mereka bertiga saling pandang, berpikir keras.)

Jesika: "Eh, gimana kalau kita dapetin nomornya dari grup kelas?

Caca: "Hadeuhh mana ada dia di grup, hp aja butut ."

Chery: "Ahh terus gimana dong"

Jesika: "Ya udah, nanti kita pikirin. Yang penting kita atur dulu skenario "

(Mereka bertiga tertawa licik, merasa rencana mulai berjalan.)

(Setelah menghabiskan makanannya, Anggelaw berdiri, membuang sisa makanan ke tempat sampah, lalu berjalan ke toilet dekat kantin. Toilet ini selalu membuatnya sedikit ragu. Ada empat pintu, tapi ia enggan memilih yang paling ujung. Entah kenapa, setiap kali melihat ke arah pintu itu, perutnya terasa mual, hawa di sekitarnya terasa berat.)

Anggelaw (bergumam pelan): "Bukan yang ujung..."

(Ia melangkah ke pintu kedua dan hendak masuk, tapi langkahnya terhenti. Seorang gadis berdiri tak jauh darinya. Gadis itu tampak asing, rambutnya panjang sebahu, wajahnya pucat. Mata mereka bertemu. Anggelaw merasakan hawa dingin menyusup ke tengkuknya.)

(Sunyi. Tak ada suara dari mereka berdua. Gadis itu tiba-tiba melangkah ke arah pintu toilet paling ujung dan mendorongnya perlahan. Pintu itu berderit pelan, seolah sudah lama tidak dibuka. Anggelaw hanya diam, menatap tanpa berkedip.)

(Tiba-tiba, aroma anyir menyelinap ke hidungnya. Rasa mual semakin menjadi. Jantungnya berdegup kencang. Gadis itu berbalik menatapnya sekali lagi, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu.)

Anggelaw (berbisik, suara gemetar): "Siapa... dia?"

(Toilet kembali sunyi. Tapi entah kenapa, perasaan Anggelaw mengatakan bahwa ia tidak boleh berlama-lama di sini...)

(Suasana kelas setelah jam istirahat. Anggelaw masuk ke dalam kelas dengan langkah percaya diri. Seperti biasa, tatapan teman-temannya langsung tertuju padanya. Beberapa tatapan penuh cibiran, beberapa lainnya sekadar ingin tahu. Di pojok Chery, Jesika, dan Caca—saling bertukar pandang. Mereka merasa ada yang berbeda dari Anggelaw hari ini.)

Chery: (berbisik ke Jesika dan Caca) "Eh, lihat deh, kenapa dia keliatan semangat banget? Biasanya kan lesu."

Jesika: "Iya, bener. Apa dia abis dapet penghargaan jadi orang paling aneh sekelas?" (tertawa kecil)

Caca: "Atau jangan-jangan dia mimpi jadi putri raja semalam?" (ikut tertawa)

(Anggelaw mendengar ucapan mereka, tapi kali ini dia tak menunduk seperti biasa. Dia malah berjalan ke bangkunya dengan senyum kecil, seolah tak terganggu.)

Chery: (melipat tangan) "Wah, kok nggak ada reaksi? Biasanya kan langsung pasang muka murung."

Anggelaw: (duduk dengan tenang, menatap mereka) "Kenapa? Kecewa karena aku nggak terpancing?"

Jesika: (mendelik) "Hah? Sok banget sih kamu! Pede banget hari ini?"

Anggelaw: (tersenyum) "Kenapa enggak? Aku cuma sadar satu hal… kalian nggak lebih dari penonton dalam hidupku. Jadi, kenapa aku harus peduli dengan komentar kalian?"

(Jesika dan Caca saling pandang, terkejut dengan jawaban Anggelaw. Chery mendengus kesal, tapi sebelum sempat membalas, bel tanda masuk berbunyi.)

Caca: (berbisik ke Jesika) "Kok dia jadi beda ya?"

Jesika: "Entahlah, tapi aku nggak suka."

(Sementara itu, Anggelaw menatap ke depan dengan percaya diri. Hari ini, dia memilih untuk tidak membiarkan omongan mereka menguasainya.)

--Gerbang sekolah, sore hari. Para siswa mulai meninggalkan sekolah. Beberapa dijemput mobil mewah, beberapa mampir ke toko atau warnet. Anggelaw berjalan keluar dengan tas disandang di bahu.

(Dari jauh, Jesika, Chery, dan Caca berdiri di samping mobil mewah yang sudah menunggu mereka. Mereka melihat Anggelaw yang berjalan sendirian.)

Jesika (tertawa kecil, menyikut Chery): "Lihat tuh, si Anggelaw pulang jalan kaki lagi!"

Chery (pura-pura terkejut): "Serius? Nggak bosen tiap hari jalan kaki? Nggak ada yang jemput, Gelaw?"

Caca (tertawa mengejek): "Mungkin dia mau olahraga biar nggak stress!"

(Mereka bertiga tertawa. Anggelaw tetap melangkah, berusaha mengabaikan mereka.)

Jesika (mencibir): "Oh iya, kamu nggak mampir ke toko buku buat beli majalah, Gelaw? Atau ke rental CD? Eh, atau warnet buat chat sama pacar online?"

Chery (pura-pura berpikir): "Eh, lupa... dia nggak punya uang buat itu, kan?"

(Caca dan Jesika tertawa keras. Anggelaw menggigit bibir, menahan perasaan yang bercampur antara malu dan marah.)

Anggelaw (tenang, menatap mereka): "Nggak semua orang butuh mobil mewah, majalah mahal, atau internet buat cari kebahagiaan. Ada yang cukup bahagia hanya dengan pulang ke rumah tanpa harus membuktikan apapun ke orang lain."

(Jesika, Chery, dan Caca saling pandang, tidak menyangka Anggelaw menjawab balik. Sebelum mereka bisa berkata apa-apa, Anggelaw sudah berbalik dan melangkah pergi.)

(Anggelaw tersenyum kecil, meskipun hatinya sedikit perih. Langkahnya tetap mantap, meninggalkan suara tawa mereka di belakang. Di dalam dirinya, ia tahu, ia mungkin tidak punya apa yang mereka miliki—tapi ia punya harga diri.)

(Langit mulai berwarna jingga saat Anggelaw melangkah masuk ke rumah. Ia melepas tas dengan napas berat. Wanda sedang duduk di kursi kayu, mengawasi toko sembako yang selalu mereka jaga.)

Anggelaw: Aku mandi dulu ya.

Wanda: (mengangguk tanpa menoleh, sibuk menghitung uang di laci kasir) Cepat ya, nanti gantian.

(Anggelaw buru-buru masuk ke dalam rumah. Dari sudut toko, Nia yang sejak tadi duduk sambil menggulir layar ponselnya, mendengus pelan.)

Nia: ("Kenapa dia harus ada di sini? Rumah ini jadi kayak miliknya aja.")

---
(Anggelaw berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Pikirannya berputar ke satu hal—Mamanya. Ia ingin bertemu lagi, seperti malam kemarin.)

Anggelaw: (berbisik pelan) Mama... aku ingin melihatmu lagi. Kalau aku bisa bertahan di dalam mimpi, aku nggak mau bangun.

(Matanya perlahan terpejam, berharap mimpi itu datang lagi. Tapi di luar kamar, seseorang masih terjaga—Nia.)

---
(Anggelaw keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Saat ia membuka pintu dapur, Nia sudah berdiri di sana, bersedekap dengan tatapan tajam.)

Nia: Kamu tuh ngapain masih di sini?

Anggelaw: (terkejut, tapi mencoba tetap tenang) Maksud kamu?

Nia: Ya, kamu itu siapa sih di rumah ini? Kenapa Wandah mau repot-repot ngurusin kamu? Kamu bukan siapa-siapa di sini. Cuma anak..ga jelasss..

(Anggelaw merasakan hatinya mencelos. Kata-kata Nia menusuk lebih dalam dari yang ia kira.)

Anggelaw: Aku... aku nggak pernah maksud bikin susah siapa-siapa.

Nia: Ya tapi tetap aja! Kamu itu kayak benalu di rumah ini. Wandah udah tua, harusnya istirahat, bukan ngurusin kamu.

(Anggelaw menggigit bibirnya, menahan rasa sakit. Ia tahu Nia tidak menyukainya, tapi sekejam ini?)

Anggelaw: ("Kalau begini... lebih baik aku tetap di dalam mimpiku.")

---
(Anggelaw mendapati dirinya berdiri di taman yang diterangi cahaya bulan. Dan di sana—Mamanya. Sosok yang ia rindukan lebih dari apa pun.)

Mamanya: Sayang... kamu datang lagi.

Anggelaw: (berlari dan memeluk Mamanya erat-erat, air matanya jatuh di bahu wanita itu) Mama... aku nggak mau bangun. Kalau di sini aku bisa bersama Mama, aku mau di sini selamanya.

Mamanya: (mengusap rambut Anggelaw dengan lembut) Tapi, sayang... kamu harus bangun.

Anggelaw: (menggeleng, menangis lebih keras) Kenapa? Di sana aku nggak punya siapa-siapa! Nia benci aku, aku cuma anak yang nggak jelas katanya.

(Mamanya tersenyum lembut, tapi wajahnya mulai memudar.)

Mamanya: Tidak, sayang. Kamu berharga. Bangunlah... dan tunjukkan itu.

(Anggelaw ingin berteriak, tapi semuanya tiba-tiba menghilang dalam kabut. Dan saat ia membuka mata—ia kembali ke kamar. Sendiri.)
-----

(Anggelaw duduk di meja makan, menatap kosong ke cangkir tehnya. Wanda sedang sibuk menyiapkan sarapan. Nia duduk di seberangnya, memainkan sendok dengan gelisah.)

Nia: ("Kenapa dia tetap di sini? Kenapa Wandah nggak pernah menjelaskan kenapa dia ada disini ?")

Nia (menatap Wandah tajam, suaranya penuh desakan): Wandah, aku nggak bisa terima ini. Kenapa kamu membiarkan dia ada di sini?

Wandah (mendesah pelan, matanya menghindari tatapan Nia): Nia, udah kubilang, nggak usah banyak tanya.

Nia (mengerutkan kening, mencoba mengingat sesuatu): Aku nggak pernah lihat dia sebelumnya… tapi entah kenapa, rasanya aku pernah…

(Anggelaw menatap Nia dengan tatapan dalam, seolah menunggu sesuatu.)

Nia (berbisik pada dirinya sendiri, pikirannya berkabut): Dulu… beberapa tahun lalu… ada seorang anak kecil…

(Tatapan Nia tiba-tiba kosong. Kenangan lama yang hampir terlupakan muncul di kepalanya.)

---
Flashback - Beberapa Tahun Lalu

Nia kecil berlari ke arah seorang pria—Om-nya—yang berdiri di depan rumah. Di sebelah pria itu, berdiri seorang anak kecil. Wajahnya samar di ingatan Nia, tapi ada sesuatu dalam tatapan anak itu yang terasa… aneh.

Om (tersenyum, mengelus kepala Nia): Om tahu kamu selalu ingin punya adik, Nia. Jadi Om bawakan dia ke sini. Dia bisa jadi teman bermainmu.

Nia kecil (tersenyum lebar, menatap anak kecil itu dengan rasa ingin tahu): Jadi… sekarang aku punya adik?

Anak kecil itu (tersenyum, tapi tatapannya kosong, suaranya pelan seperti bisikan): Ya, sekarang aku adikmu.

---
Kembali ke Masa Sekarang

Nia (terengah, menatap Anggelaw dengan wajah pucat): Tidak mungkin… Anak kecil itu… Dia…

Nia (melangkah mundur, suaranya bergetar): Tapi… tapi kenapa? Kenapa adikku… adalah kamu?

Wandah (menghela napas berat, suaranya dalam dan penuh rahasia): Karena… dia memang selalu menjadi bagian dari hidupmu, Nia.

(Nia menatap Wandah, lalu kembali ke Anggelaw. Ada sesuatu dalam tatapan remaja itu—sesuatu yang tidak manusiawi. Dan tiba-tiba, semua
pertanyaan yang tadinya ada di kepalanya terasa semakin berat… semakin gelap… semakin menakutkan.)
 
Back
Top